Membuat website sering terlihat sederhana dari luar.
Ada desainnya, ada tulisan, ada gambar, lalu website dipublikasikan.
Namun di balik proses tersebut ada satu hal yang sering menentukan apakah pengerjaan website berjalan lancar atau justru bolak-balik revisi: persiapan.
Semakin jelas kebutuhan sejak awal, semakin mudah tim pengembang menerjemahkannya menjadi website.
Berikut tujuh hal yang sebaiknya disiapkan sebelum membuat website.
1. Tentukan Tujuan Website
Ini yang paling penting.
Jangan mulai dengan pertanyaan, “Mau desainnya seperti apa?”
Mulailah dengan:
“Website ini dibuat untuk apa?”
Apakah untuk memperkenalkan perusahaan? Menjual produk? Menerima booking? Mengumpulkan donasi? Menampilkan portofolio? Mempublikasikan berita? Atau menyediakan pembelajaran online?
Tujuan akan menentukan hampir semua keputusan berikutnya.
Website company profile tidak membutuhkan struktur yang sama dengan e-commerce. Website pendidikan juga berbeda dengan website personal.
2. Kenali Siapa Pengunjungnya
Website dibuat untuk manusia, bukan hanya untuk mesin pencari.
Karena itu, penting mengetahui siapa yang akan menggunakannya.
Apakah pengunjungnya calon pelanggan? Orang tua siswa? Peserta pelatihan? Donatur? Investor? Mitra bisnis? Atau pembaca umum?
Semakin jelas audiensnya, semakin mudah menentukan bahasa, struktur informasi, dan navigasi website.
Bayangkan seseorang datang ke halaman utama.
Apa yang paling ingin dia ketahui?
Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa menjadi dasar struktur website.
3. Tentukan Halaman yang Dibutuhkan
Sebelum masuk ke desain, buat daftar halaman.
Misalnya:
- Beranda
- Tentang Kami
- Layanan
- Portofolio
- Artikel
- FAQ
- Kontak
Untuk toko online, mungkin ada kategori produk dan halaman detail produk.
Untuk lembaga pendidikan, mungkin dibutuhkan program, tenaga pengajar, pendaftaran, berita, dan informasi akademik.
Tidak perlu langsung sempurna.
Yang penting adalah memiliki gambaran struktur agar proses pengembangan tidak berjalan tanpa arah.
4. Siapkan Materi Konten
Ini bagian yang sering menjadi hambatan.
Website sudah siap dikerjakan, tetapi logo belum tersedia. Foto belum dikumpulkan. Profil perusahaan masih dalam bentuk dokumen lama. Informasi layanan belum final.
Akibatnya, pengerjaan ikut tertunda.
Sebelum proyek dimulai, kumpulkan sebanyak mungkin materi yang sudah tersedia.
Logo, foto, profil, daftar layanan, alamat, nomor kontak, katalog produk, dokumen pendukung, hingga tautan media sosial.
Tidak semuanya harus sempurna.
Yang penting tersedia sebagai bahan awal.
5. Tentukan Fitur yang Benar-Benar Dibutuhkan
Buat daftar kebutuhan fungsional.
Apakah pengunjung perlu melakukan pembelian? Booking? Mengisi formulir? Login? Mengunduh dokumen? Membaca artikel? Mengakses kelas?
Kemudian pisahkan antara “dibutuhkan” dan “akan bagus kalau ada.”
Ini penting.
Banyak website menjadi lebih mahal dan lebih sulit dikelola karena terlalu banyak fitur dimasukkan sejak awal tanpa kebutuhan yang jelas.
Website bisa dikembangkan bertahap.
Tidak semuanya harus selesai dalam versi pertama.
6. Siapkan Domain dan Pertimbangkan Hosting
Nama domain sebaiknya dipikirkan sejak awal.
Idealnya, domain mudah diingat, relevan dengan nama bisnis, dan tidak terlalu rumit ketika disebutkan secara lisan.
Selain domain, pertimbangkan juga hosting.
Jenis hosting yang dibutuhkan akan bergantung pada website yang dibuat. Website company profile sederhana tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan toko online yang memiliki ribuan produk atau website dengan trafik tinggi.
Untuk proyek tertentu, pemilihan hosting sebaiknya dilakukan bersama pihak yang mengembangkan website.
7. Tentukan Siapa yang Akan Mengelola Website
Pertanyaan ini sering baru muncul setelah website selesai.
“Nanti siapa yang update?”
Padahal jawabannya sebaiknya sudah dipikirkan sejak awal.
Apakah tim internal akan mengelola konten? Apakah ada admin khusus? Apakah pemilik bisnis akan melakukan pembaruan sendiri? Atau membutuhkan partner eksternal?
Ini juga memengaruhi bagaimana website dibangun.
Website yang akan dikelola sendiri oleh klien sebaiknya menggunakan sistem yang mudah dipahami dan tidak membuat setiap perubahan kecil harus bergantung pada developer.
Website yang Baik Dimulai Sebelum Desain
Pada akhirnya, proses membuat website bukan hanya tentang memilih warna, font, atau gambar hero.
Website yang baik dimulai dari pemahaman yang jelas tentang tujuan, pengguna, konten, fitur, dan cara pengelolaannya.
Semakin matang persiapannya, semakin mudah proses desain dan pengembangannya.
Dan ada satu prinsip sederhana yang sebaiknya selalu diingat:
Jangan membuat website hanya karena ingin punya website. Buat karena ada sesuatu yang ingin dibantu oleh website tersebut.